Halaman

Sabtu, 08 Juni 2013

Pendahuluan Laporan Observasi

PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Dalam Pelajaran di sekolah-sekolah terkadang dalam proses pengajaranya siswa kurang memahaminya yang dilakukannya hanya materi.
Dalam hal ini untuk pelajaran yang berhubungan sejarah perlu adanya pengetahuan secara terjun langsung kelapangan, mengunjungi tempat-tempat sejarah, museum ataupun lainnya, maka dari itu sekolah kami yakni Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Batujaya Karawang mengadakan kegiatan Observasi  “Di  Masjid Agung Demak, Taman Pintar, Museum Merapi Dan Museum Biologi.
Wajib belajar adalah program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga negara Indonesia atas tanggung jawab Pemerintah dan pemerintah daerah.
kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara Indonesia, sesuai dengan Peraturan Pemerintah RI No 47 Tahun 2008 .
Wajib belajar bertujuan memberikan pendidikan minimal bagi warga negara Indonesia untuk dapat mengembangkan potensi dirinya agar dapat hidup mandiri di dalam masyarakat atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan  Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mengemban fungsi tersebut pemerintah menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi serta efisiensi manajemen pendidikan. Pemerataan kesempatan pendidikan diwujudkan dalam program wajib belajar 9 tahun. Peningkatan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya melalui olahhati, olahpikir, olahrasa dan olahraga agar memiliki daya  saing dalam menghadapi tantangan global. Peningkatan relevansi pendidikan dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan berbasis potensi sumber daya alam Indonesia. Peningkatan efisiensi manajemen pendidikan dilakukan melalui penerapan manajemen berbasis sekolah dan pembaharuan pengelolaan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.

B.     Tujuan Penelitian
Setiap kegiatan atau aktivitas sudah barang tentu mempunyai tujuan yang akan dicapai, maka Tujuan Penulis menyusun Laporan Hasil Observasi Di  Masjid Agung Demak, Taman Pintar, Museum Merapi Dan Museum Biologi, adapun tujuan-tujuannya sebagai berikut ;
1).  Laporan ini dibuat Untuk Memenuhi tugas sebagai syarat mengikuti Ujian Nasional.
2).  Untuk menambah wawasan dan pengetahuan penulis pada khususnya pembaca pada umumnya.
3). Menambah Pemahaman dan cinta Tentang Sejarah dan Kebudayaan-kebudayaan khususnya Negara Indonesia


C.  Batasan Dan Rumusan Masalah
a.    Batasan Masalah
Agar masalah yang dibahas dalam hasil laporan observasi ini terarah maka penulis batasi pada;
1)      Masjid Agung Demak
a.    Sejarah berdirinya masjid agung demak
b.    Tujuan visi dan misi didirikan masjd agung demak
c.    Menginveratisir bukti-bukti sejarah masjid demak
d.   Manfaat bagi masyarakat dan pemerintah
e.    Hubungan dengan program IPA
2)      Taman Pintar
a.    Sejarah Taman Pintar
b.    Visi, Misi dan Moto
c.    Tujuan Taman Pintar
d.   Makna Logo dan Maskot
e.    Hubungan dengan program IPA

3)      Museum Merapi
a.    Sejarah museum merapi
b.    Tujuan berdirinya museum
c.    Dampak positif dan negatif dari aktifitas erupsi/letusan merapi bagi penduduk sekitar
d.   Erusi merapi





4)      Museum Biologi
a.    Sejarah berdirinya brdirinya museum biologi
b.    Tujuan visi dan misi didirikan museum biologi
c.    Bukti-bukti  sejarah museum biologi
d.   Manfaat museum biologi bagi masyarakat dan pemerintah
e.    Hubungannya dengan program IPA

2        Rumusan Masalah
Didalam perumusan masalah ini maka penulis merumuskan permasalahan laporan observasi ini menjadi lima bab, adapun isi bab sebagai berikut
1.Bab Pertama Pendahuluan;
a. Apa yang melatar belakangi diadakan Observasi?
b. Apa Tujuan Penelitian Observasi Yang dilakukan oleh sekolah kami ?
2. Bab Kedua Masjid Agung Demak
a. Bagaimana Sejarah  Masjid Agung Demak berdirikan?
b. Aapa Tujuan, visi dan Misi didirikan Masjid Agung Demak ?
c. Apasajah Bukti-bukti Sejarah Masjid Agung Demmak ?
d. Apa Hubungan Dengan Program IPA ?
2. Bab Ketiga Taman Pintar
a. Apa yang melatar belakangi berdirinya MoseumTaman Pintar ?


b. Apa Visi, Misi Dan Moto Taman Pintar ?
c. Apa yang Menjadikan Logo dan Maskot Taman Pintar dan Maknanya?
d. Adakah Hububungan Dengan Program IPA ?
3. Bab keempat Museum Merapi
a. Kapan Berdirinya Sejarah Museum Merapi ?
b. Apa Tujuan, Misi dan Visi Berdirinya Museum Merapi ?
d. Berdampak Apa Terjadinya Erupsi/letusan Merapi bagi penduduk  sekitar ?
e. Kapan saja Terjadinya Erupsi Merapi di Indonesia Khususnya Gunung Merapi Djogjakarta ?
f. Apa Hubungan Dengan Program IPA ?
 4. Bab Kelima Museum Biolog ?
a. Kapan berdirinya Museum Biologi ?
b. Apa Tujuan, Misi dan Visi Berdirinya Museum Merapi ?
c. Apasajah Bukti-bukti Sejarah Museum Biologi ?
d. Apa manfaat Museum Biologi  bagi Masyarakat dan Pemerintah?
3. Bab Ketiga Penutup
a)      Kesimpulan apa yang kamu dapat?
b)      Saran apa saja yang kami himbau ?



D.    SISTEMATIK PENULISAN
Sistematik penulisan, penulis memulai dengan uraian sebagai berikut :
BAB I      : PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
B.     Tujuan Penelitian
C.     Pembatasan dan Rumusan Masalah

BAB II      : MASJID AGUNG
A.    Sejarah Berdirinya Masjid Agung Demak
B.     Tujuan visi dan misi didirikan masjd agung demak
C.     Menginveratisir bukti-bukti sejarah masjid demak
D.    Manfaat bagi masyarakat dan pemerintah
E.     Hubungan dengan program IPA
BAB III   : TAMAN PINTAR
A.    Sejarah Taman Pintar
B.     Visi, Misi dan Moto
C.     Tujuan Taman Pintar
D.    Makna Logo dan Maskot
E.     Hubungan dengan program IPA
BAB IV   : MUSEUM MERAPI
A.    Sejarah museum merapi
B.     Tujuan berdirinya museum

C.     Dampak positif dan negatif dari aktifitas erupsi/letusan merapi bagi penduduk sekitar
D.    Erusi merapi
BAB V     : MUSEUM BIOLOGI
A.    Sejarah berdirinya brdirinya museum biologi
B.     Tujuan visi dan misi didirikan museum biologi
C.     Bukti-bukti  sejarah museum biologi
D.    Manfaat museum biologi bagi masyarakat dan pemerintah
E.     Hubungannya dengan program IPA
BAB VI   :  PENUTUP
                      A. Kesimpulan
                      B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR RIWAYAT HIDUP






















Kamis, 18 Oktober 2012

we our












PEMBAGIANKATA


Semua bahasa manusia tersusun dari tiga komponen dasar yaitu:

1. Satuan bunyi yang disebut "huruf" atau "abjad".

Contoh:م - س - ج - د
2. Susunan huruf yang memiliki arti tertentu yang disebut "kata".
Contoh: مَسْجِدٌ (= masjid)
3. Rangkaian kata yang mengandung pikiran yang lengkap yang disebut "kalimat".
Contoh: أُصَلِّيْ فِي الْمَسْجِدِ(= saya shalat di masjid)
Dalam tata bahasa Arab, "kata" dibagi ke dalam tiga golongan besar:

1. ISIM (
اِسْم) atau "kata benda". Contoh:مَسْجِد(= masjid)
2. FI'IL (فِعْل) atau "kata kerja". Contoh:أُصَلِّيْ(= saya shalat)
3. HARF (حَرْف) atau "kata tugas". Contoh: فِيْ(= di, dalam)
Penggunaan istilah Kata Benda, Kata Kerja dan Kata Tugas dalam tata bahasa Indonesia, tidak sama persis dengan Isim, Fi'il dan Harf dalam tata bahasa Arab. Namun bisalah dipakai untuk sekadar mendekatkan pengertian.


اِسْمعَلَمُ
ISIM 'ALAM (Kata Benda Nama)
Dalam golongan Isim, ada yang disebut dengan Isim 'Alam yaitu Isim yang merupakan nama dari seseorang atau sesuatu. Di bawah ini beberapa contoh Isim 'Alam (nama), bacalah dengan suara nyaring dan jelas satu persatu:
مُحَمَّد - آدَم - إِدْرِيْس - نُوْح - إِبْرَاهِيْم - إِسْمَاعِيْل - إِسْحَاق - يَعْقُوْب - يُوْسُف - مُوْسَى - سُلَيْمَان - يُوْنُس - عِيْسَى - مَرْيَم - خَدِيْجَة - عَائِشَة - فَاطِمَة - عُمَر - عُثْمَان - جِبْرِيْل - مِيْكَال - لُقْمَان - زَيْد - فِرْعَوْن - قَارُوْن - إِبْلِيْس - عِفْرِيْت - مَكَّة - مَدِيْنَة
Cari dan tuliskanlah Isim-isim Alam yang lain yang anda temukan dan ketahui!
مُذَكَّر - مُؤَنَّث
MUDZAKKAR (Laki-laki) - MUANNATS (Perempuan)
Dalam tata bahasa Arab, dikenal adanya penggolongan Isim ke dalam Mudzakkar (laki-laki) atau Muannats (perempuan). Penggolongan ini ada yang memang sesuai dengan jenis kelaminnya (untuk manusia dan hewan) dan adapula yang merupakan penggolongan secara bahasa saja (untuk benda dan lain-lain).
Contoh Isim Mudzakkar
Contoh Isim Muannats
عِيْسَى
(= 'Isa)
مَرْيَم
(= Maryam)
اِبْنٌ
(= putera)
بِنْتٌ
(= puteri)
بَقَرٌ
(= sapi jantan)
بَقَرَةٌ
(= sapi betina)
بَحْرٌ
(= laut)
رِيْحٌ
(= angin)
Dari segi bentuknya, Isim Muannats biasanya ditandai dengan adanya tiga jenis huruf di belakangnya yaitu:
a) Ta Marbuthah ( ة ). Misalnya: فَاطِمَة (=Fathimah), مَدْرَسَة (=sekolah)
b) Alif Maqshurah ( ى ).
Misalnya: سَلْمَى (=Salma), حَلْوَى (=manisan)
c) Alif Mamdudah ( اء ). Misalnya: أَسْمَاء (=Asma'),  سَمْرَاء (=pirang)
Namun adapula Isim Muannats yang tidak menggunakan tanda-tanda di atas.
Misalnya: رِيْحٌ(= angin), نَفْسٌ(= jiwa, diri), شَمْسٌ(= matahari)
Bahkan ada pula beberapa Isim Mudzakkar yang menggunakan Ta Marbuthah.
Contoh: حَمْزَة(= Hamzah), طَلْحَة(= Thalhah), مُعَاوِيَة(= Muawiyah)
Ingat, jangan melangkah ke halaman selanjutnya sebelum mengerti pelajaran di atas dan menghafal kosakata yang baru anda temukan!
مُفْرَد - مُثَنَّى - جَمْع
MUFRAD (Tunggal) - MUTSANNA (Dual) - JAMAK
Dari segi bilangannya, bentuk-bentuk Isim dibagi tiga:
1) ISIM MUFRAD (tunggal) kata benda yang hanya satu atau sendiri.
2)
ISIM MUTSANNA (dual) kata benda yang jumlahnya dua.
3)
ISIM JAMAK(plural) atau kata benda yang jumlahnya lebih dari dua.
Isim Mutsanna (Dual) bentuknya selalu beraturan yakni diakhiri dengan huruf Nun Kasrah ( نِ ), baik untuk Isim Mudzakkar maupun Isim Muannats. Contoh:
Mufrad
Tarjamah
Mutsanna
Tarjamah
رَجُلٌ
= seorang laki-laki
رَجُلاَنِ
= dua orang laki-laki
جَنَّةٌ
= sebuah kebun
جَنَّتَانِ
= dua buah kebun
مُسْلِمٌ
= seorang muslim
مُسْلِمَانِ
= dua orang muslim
مُسْلِمَةٌ
= seorang muslimah
مُسْلِمَتَانِ
= dua orang muslimah
Adapun Isim Jamak, dari segi bentuknya terbagi dua macam:

1. JAMAK SALIM ( جمْعسَالِم ) yang bentuknya beraturan:
Mufrad
Tarjamah
Jamak
Tarjamah
اِبْنٌ
= seorang putera
بَنُوْنَ
= putera-putera
بِنْتٌ
= seorang puteri
بَنَاتٌ
= puteri-puteri
مُسْلِمٌ
= seorang muslim
مُسْلِمُوْنَ
= muslim-muslim
مُسْلِمَةٌ
= seorang muslimah
مُسْلِمَاتٌ
= muslimah-muslimah
2. JAMAK TAKSIR (جَمْعتَكْسِيْر ) yang bentuknya tidak beraturan:
Mufrad
Tarjamah
Jamak
Tarjamah
رَسُوْلٌ
= seorang rasul
رُسُلٌ
= rasul-rasul
عَالِمٌ
= seorang alim
عُلَمَاءُ
= orang-orang alim
رَجُلٌ
= seorang laki-laki
رِجَالٌ
= para laki-laki
اِمْرَأَةٌ
= seorang perempuan
نِسَاءٌ
= perempuan-perempuan
Ingat, jangan melangkah ke halaman selanjutnya sebelum mengerti pelajaran di atas dan menghafal semua kosa kata yang baru anda temukan!
اِسْمإِشَارَة
ISIM ISYARAH (Kata Tunjuk)
Untuk lebih memahami penggunaan Mudzakkar dan Muannats, serta Mufrad, Mutsanna dan Jamak dalam pengelompokan Isim, kita akan mempelajari tentang Isim Isyarah atau Kata Tunjuk dan Isim Maushul atau Kata Sambung.
Pertama, Isim Isyarah. Pada dasarnya, ada dua macam Kata Tunjuk:
1) Isim Isyarah atau Kata Tunjuk untuk yang dekat: هَذَا(=ini).
Contoh dalam kalimat: هَذَاكِتَابٌ(= ini sebuah buku)
2) Isim Isyarah atau Kata Tunjuk untuk yang jauh: ذَلِكَ(=itu).
Contoh dalam kalimat: ذَلِكَكِتَابٌ(= itu sebuah buku)
Bila Isim Isyarah itu menunjuk kepada Isim Muannats maka:
1) هَذَا menjadi: هَذِهِ (=ini). Contoh: هَذِهِمَجَلَّةٌ (= ini sebuah majalah)
2) ذَلِكَmenjadi: تِلْكَ(=itu). Contoh: تِلْكَمَجَلَّةٌ(= itu sebuah majalah)
Adapun bila Isim yang ditunjuk itu adalah Mutsanna (Dual), maka:
1)هَذَاmenjadi هَذَانِ. Contoh: هَذَانِ كِتَابَانِ(= ini dua buah buku)
2)هَذِهِmenjadiهَتَانِ. Contoh: هَتَانِمَجَلَّتَانِ(= ini dua buah majalah)
3)ذَلِكَmenjadiذَانِكَ. Contoh: ذَانِكَكِتَابَانِ(= itu dua buah buku)
4)تِلْكَmenjadiتَانِكَ. Contoh: تَانِكَمَجَلَّتَانِ(= itu dua buah majalah)
Sedangkan bila Isim yang ditunjuk itu adalah Jamak (lebih dari dua), maka baik Mudzakkar maupun Muannats, semuanya menggunakan: هَؤُلاَءِ(= ini) untuk menunjuk yang dekat; dan أُلَئِكَ(= itu) untuk menunjuk yang jauh. Contoh:
هَؤُلاَءِكُتُبٌ
أُلَئِكَكُتُبٌ
(= ini adalah buku-buku)
(= itu adalah buku-buku)
هَؤُلاَءِمَجَلاَّتٌ
أُلَئِكَمَجَلاَتٌ
 (= ini adalah majalah-majalah)
(= itu adalah majalah-majalah)
Ingat, jangan melangkah ke halaman selanjutnya sebelum mengerti pelajaran di atas dan menghafal semua kosa kata yang baru anda temukan!


اِسْممَوْصُوْل
ISIM MAUSHUL (Kata Sambung)
Isim Maushul (Kata Sambung) adalah Isim yang berfungsi untuk menghubungkan beberapa kalimat atau pokok pikiran menjadi satu kalimat. Dalam bahasa Indonesia, Kata Sambung semacam ini diwakili oleh kata: "yang".
Bentuk asal/dasar dari Isim Maushul adalah: الَّذِيْ (=yang). Perhatikan contoh penggunaan Isim Maushul dalam menggabungkan dua kalimat di bawah ini:
Kalimat I
جَاءَالْمُدَرِّسُ
= datang guru itu
Kalimat II
اَلْمُدَرِّسُ يَدْرُسُ الْفِقْهَ
= guru itu mengajar Fiqh
Kalimat III
جَاءَ الْمُدَرِّسُ الَّذِيْ يَدْرُسُ الْفِقْهَ
= datang guru yang mengajar Fiqh
Kalimat III menghubungkan Kalimat I dan II dengan Isim Maushul: الَّذِيْ
Bila Isim Maushul itu dipakai untuk Muannats maka: الَّذِيْ menjadi: الَّتِيْ
جَاءَتِ الْمُدَرِّسَةُالَّتِيْ تَدْرُسُ الْفِقْهَ
= datang guru (pr) yang mengajar Fiqh itu
Bila Isim Maushul itu digunakan untuk Mutsanna (Dual) maka:
1) الَّذِيْ menjadi:  الَّذَانِ sedangkan  الَّتِيْ menjadi:  الَّتَانِ
جَاءَ الْمُدَرِّسَانِ الَّذَانِ يَدْرُسَانِ الْفِقْهَ
= datang dua orang guru (lk) yang mengajar Fiqh itu
جَاءَتِ الْمُدَرِّسَتَانِالَّتَانِ تَدْرُسَانِ الْفِقْهَ
= datang dua orang guru (pr) yang mengajar Fiqh
Bila Isim Maushul itu dipakai untuk Jamak maka:
1) الَّذِيْ menjadi:  الَّذِيْنَ sedangkan: الَّتِيْ  menjadi: اللاَّتِيْ/اللاَّئِيْ
جَاءَ الْمُدَرِّسُوْنَالَّذِيْنَ يَدْرُسُوْنَ الْفِقْهَ
= datang guru-guru (lk) yang mengajar Fiqh itu
جَاءَتِ الْمُدَرِّسَاتُاللاَّتِيْ يَدْرُسْنَ الْفِقْهَ
= datang guru-guru (pr) yang mengajar Fiqh itu

Ingat, jangan melangkah ke halaman selanjutnya sebelum mengerti pelajaran di atas dan menghafal semua kosa kata yang baru anda temukan!
نَكِرَة - مَعْرِفَة
NAKIRAH (Umum) - MA'RIFAH (Khusus)
Menurut penunjukannya, Isim dapat dibagi dua:
1) ISIM NAKIRAH atau kata benda bentuk umum atau tak dikenal (tak tentu).
2) ISIM MA'RIFAH atau kata benda bentuk khusus atau dikenal (tertentu).
Isim Nakirah merupakan bentuk asal dari setiap Isim, biasanya ditandai dengan huruf akhirnya yang bertanwin ( ً  ٍ  ٌ  ). Sedangkan Isim Ma'rifah biasanya ditandai dengan huruf Alif-Lam ( ال ) di awalnya.
Contoh Isim Nakirah: بَيْتٌ  (= sebuah rumah), وَلَدٌ  (= seorang anak)
Contoh Isim Ma'rifah: اَلْبَيْتُ  (= rumah itu), اَلْوَلَدُ (= anak itu)
Coba bandingkan dan perhatikan perbedaan makna dan fungsi antara Isim Nakirah dan Isim Ma'rifah dalam dua buah kalimat di bawah ini:
ذَلِكَ بَيْتٌ. اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ.
= Itu sebuah rumah. Rumah itu baru.
جَاءَ وَلَدٌ. اَلْوَلَدُ مُؤَدِّبٌ.
= Datang seorang anak. Anak itu sopan.
Selain Isim yang berawalan Alif-Lam, yang juga termasuk Isim Ma'rifah adalah:
1. ISIM 'ALAM (Nama). Semua Isim 'Alam termasuk Isim Ma'rifah, meskipun diantara Isim 'Alam tersebut ada yang huruf akhirnya bertanwin.
Contoh:  أَحْمَدُ  (= Ahmad), عَلِيٌّ (= Ali), مَكَّةُ (= Makkah)
2. ISIM DHAMIR (Kata Ganti). Yaitu kata yang mewakili atau menggantikan penyebutan sesuatu atau seseorang atau sekelompok benda/orang.
Contoh: أَنَا  (= aku, saya), نَحْنُ (= kami, kita), هُوَ (= ia, dia)
Isim Dhamir ini kelak akan dibahas tersendiri secara terinci.

ضَمِيْر
DHAMIR
(Kata Ganti)
Dhamir atau "kata ganti" ialah Isim yang berfungsi untuk menggantikan atau mewakili penyebutan sesuatu/seseorang maupun sekelompok benda/orang. Dhamir termasuk dalam golongan Isim Ma'rifah.
Contoh:
أَحْمَدُيَرْحَمُاْلأَوْلاَدَ = Ahmad menyayangi anak-anak
هُوَيَرْحَمُهُمْ = Dia menyayangi mereka
Pada contoh di atas, kata أَحْمَدُ diganti dengan هُوَ (=dia), sedangkan الأَوْلاَد (=anak-anak) diganti dengan هُمْ (=mereka).
Kata هُوَ dan هُمْ dinamakan Dhamir atau Kata Ganti.
Menurut fungsinya, ada dua golongan Dhamir yaitu:
1) DHAMIR RAFA' ( ضَمِيْررَفْع ) yang berfungsi sebagai Subjek.
2) DHAMIR NASHAB ( ضَمِيْرنَصْب ) yang berfungsi sebagai Objek.
Dhamir Rafa' dapat berdiri sendiri sebagai satu kata, sedangkan Dhamir Nashab tidak dapat berdiri sendiri atau harus terikat dengan kata lain dalam kalimat.
Dalam kalimat: هُوَيَرْحَمُهُمْ (= Dia menyayangi mereka):
- Kata هُوَ (=dia) adalah Dhamir Rafa', sedangkan:
- Kata هُمْ (=mereka) adalah Dhamir Nashab.
ضَمِيْر رَفْع
DHAMIR RAFA' (Kata Ganti Subjek)
Semua Dhamir dapat dikelompokkan menjadi tiga macam:
1. MUTAKALLIM ( مُتَكَلِّم) atau pembicara (orang pertama).
a) Mufrad: أَنَا(= aku, saya) untuk Mudzakkar maupun Muannats.
b) Mutsanna/Jamak: نَحْنُ(= kami, kita) untuk Mudzakkar maupun Muannats.
2. MUKHATHAB ( مُخَاطَب) atau lawan bicara (orang kedua). Terdiri dari:
a) Mufrad: أَنْتَ(= engkau) untuk Mudzakkar dan أَنْتِuntuk Muannats.
b) Mutsanna: أَنْتُمَا(= kamu berdua) untuk Mudzakkar maupun Muannats.
c) Jamak: أَنْتُمْ(= kalian) untuk Mudzakkar dan أَنْتُنَّuntuk Muannats.
3. GHAIB ( غَائِب) atau tidak berada di tempat (orang ketiga). Terdiri dari:
a) Mufrad: هُوَ(= dia) untuk Mudzakkar dan هِيَuntuk Muannats.
b) Mutsanna: هُمَا(= mereka berdua) untuk Mudzakkar maupun Muannats.
c) Jamak: هُمْ(= mereka) untuk Mudzakkar dan هُنَّuntuk Muannats.
Hafalkanlah keduabelas bentuk Dhamir Rafa' di atas beserta artinya masing-masing sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya!

ضَمِيْرنَصْب
DHAMIR NASHAB (Kata Ganti Objek)
Dhamir Nashab adalah turunan (bentuk lain) dari Dhamir Rafa' yang terdiri dari:
Dhamir Rafa'
Dhamir Nashab

Dhamir Rafa'
Dhamir Nashab
أَنَا
ي

أَنْتُنَّ
كُنَّ
نَحْنُ
نَا

هُوَ
هُ
أَنْتَ
كَ

هِيَ
هَا
أَنْتِ
كِ

هُمَا
هُمَا
أَنْتُمَا
كُمَا

هُمْ
هُمْ
أَنْتُمْ
كُمْ

هُنَّ
هُنَّ
Dhamir Nashab berfungsi sebagai objek dan tidak dapat berdiri sendiri; ia terikat dengan kata lain dalam suatu kalimat, baik itu dengan Isim, Fi'il ataupun Harf.
1) Contoh Dhamir Nashab yang terikat dengan Isim dalam kalimat:
أَنَا مُسْلِمٌ، دِيْنِيَ اْلإِسْلاَمُ
= saya seorang muslim, agamaku Islam
نَحْنُ مُسْلِمُوْنَ، دِيْنُنَا اْلإِسْلاَمُ
= kami orang-orang muslim, agama kami Islam
أَنْتَ مُسْلِمٌ، دِيْنُكَ اْلإِسْلاَمُ
= engkau (lk) seorang muslim, agamamu Islam
أَنْتِ مُسْلِمَةٌ، دِيْنُكِ اْلإِسْلاَمُ
= engkau (pr) seorang muslim, agamamuIslam
2) Contoh Dhamir Nashab yang terikat dengan Fi'il dalam kalimat:
أَنْتُمَا مُسْلَمَانِ، اَللهُ يَرْحَمُكُمَا
= kamu berdua adalah muslim, Allah merahmati kamu berdua
أَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، اَللهُ يَرْحَمُكُمْ
= kalian (lk) adalah muslimun, Allah merahmati kalian
أَنْتُنَّ مُسْلِمَاتٌ، اَللهُ يَرْحَمُكُنَّ
= kalian (pr) adalah muslimat, Allah merahmati kalian
هُوَ مُسْلِمٌ، اَللهُ يَرْحَمُهُ
= dia (lk) adalah muslim, Allah merahmatinya
3) Contoh Dhamir Nashab yang terikat dengan Harf dalam kalimat:
هِيَ مُسْلِمَةٌ، لَهَارَحْمَةُ اللهِ
= dia (pr) adalah seorang muslimah, untuknyarahmat Allah
هُمَا مُسْلِمَانِ، لَهُمَارَحْمَةُ اللهِ
= mereka berdua adalah muslim, untuk mereka berdua rahmat Allah
هُمْ مُسْلِمُوْنَ، لَهُمْرَحْمَةُ اللهِ
= mereka (lk) adalah muslimin, untuk mereka rahmat Allah
هُنَّ مُسْلِمَاتٌ، لَهُنَّرَحْمَةُ اللهِ
= mereka (pr) adalah muslimat, untuk mereka rahmat Allah

Gabungan Dhamir Nashab yang melekat pada Isim akan membentuk Isim Ma'rifah dengan pola Mudhaf-Mudhaf Ilaih dimana Isim di depannya merupakan Mudhaf sedang Dhamir Nashab di belakangnya merupakan Mudhaf Ilaih.
بَيْتِيْ (=rumahku) -->بَيْتٌ [Mudhaf] +ي [Mudhaf Ilaih]
كِتَابُكَ (=bukumu) -->كِتَابٌ [Mudhaf] + كَ [Mudhaf Ilaih]
مَدْرَسَتُهُمْ (=sekolah mereka) -->مَدْرَسَةٌ [Mudhaf] +هُمْ [Mudhaf Ilaih]
Hafalkanlah semua Dhamir Nashab di atas beserta artinya masing-masing sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya!


= datang kaum muslimin
رَأَيْتُ الْمُسْلِمِيْنَ
= aku melihat kaum muslimin
سَلَّمْتُ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ
= aku memberi salam kepada kaum muslimin
3) Al-Asma' al-Khamsah ( اَلأَسْمَاءالْخَمْسَة) atau "isim-isim yang lima" yakni: أَبٌ(=ayah), أَخٌ(=saudara), حَمٌ(=ipar), ذُوْ(=pemilik) dan فَمٌ(=mulut). Isim-isim ini memiliki perubahan bentuk yang khas sebagai berikut:
a. I'rab Rafa' ditandai dengan huruf Wau ( و ) di akhirnya
b. I'rab Nashab ditandai dengan huruf Alif ( ا  ) di akhirnya
c. I'rab Jarr ditandai dengan huruf Ya ( ي ) di akhirnya
جَاءَ أَبُوْبَكْرٍ
= datang Abubakar
رَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ
= aku melihat Abubakar
سَلَّمْتُ عَلَى أَبِيْ بَكْرٍ
= aku memberi salam kepada Abubakar
Hafalkanlah kelompok-kelompok Isim yang mempunyai tanda-tanda I'rab yang khas ini, sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.

اِسْم غَيْرُمُنَوَّن
ISIM GHAIRU MUNAWWAN (Isim yang Tidak Menerima Tanwin)
Dalam kaitannya tentang Alamat I'rab Far'iyyah (tanda-tanda I'rab cabang), kita harus mempelajari golongan Isim yang huruf akhirnya tidak menerima baris tanwin maupun kasrah (hanya menerima baris dhammah dan fathah). 
Isim-isim ini dinamakan ISIM GHAIRU MUNAWWAN yang terdiri dari:
1) Semua Isim 'Alam (Nama) yang diakhiri dengan Ta Marbuthah (meskipun ia adalah Mudzakkar). Misalnya: فَاطِمَةُ(=Fatimah), آمِنَةُ(=Aminah), مَكَّةُ(=Makkah), مُعَاوِيَةُ(=Muawiyah), حَمْزَةُ(=Hamzah), dan sebagainya.
2) Semua Isim 'Alam Muannats (meskipun tidak diakhiri dengan Ta Marbuthah). Misalnya: خَدِيْجَةُ (=Khadijah), سَوْدَةُ(=Saudah), زَيْنَبُ(=Zainab), بَغْدَادُ(=Bagdad), دِمَشْقُ(=Damaskus), dan sebagainya.
3) Isim 'Alam yang merupakan kata serapan atau berasal dari bahasa 'ajam (bukan Arab). Misalnya: إِبْرَاهِيْمُ(=Ibrahim), دَاوُدُ(=Dawud), يُوْسُفُ(=Yusuf), فِرْعَوْنُ(=Fir'aun), قَارُوْنُ(=Qarun), dan sebagainya.
4) Isim 'Alam yang menggunakan wazan (pola/bentuk) Fi'il. Misalnya: يَزِيْدُ(=Yazid), أَحْمَدُ(=Ahmad), يَثْرِبُ(=Yatsrib), dan sebagainya.
5) Isim 'Alam yang menggunakan wazan  فُعَل . Misalnya: عُمَرُ (=Umar), زُحَلُ (=Zuhal), جُحَا (=Juha), dan sebagainya.
6) Semua Isim, baik Isim 'Alam maupun bukan, yang diakhiri dengan huruf Alif-Nun. Misalnya: عُثْمَانُ (=Utsman), سُلَيْمَانُ (=Sulaiman), رَمَضَانُ (=Ramadhan), جَوْعَانُ (=lapar), غَضْبَانُ (=marah), dan sebagainya.
7) Semua Isim yang menggunakan wazan (pola/bentuk) أَفْعَل . Misalnya: أَفْضَلُ(=lebih utama), أَكْبَرُ (=lebih besar), أَسْوَدُ (=hitam), dan sebagainya.
8) Isim Jamak yang mempunyai wazan yang di tengahnya terdapat Mad Alif. Misalnya: رَسَائِلُ(=surat-surat), أَنَاشِيْدُ(=nasyid-nasyid), شَوَارِعُ(=jalan-jalan), قَبَائِلُ(=suku-suku), dan sebagainya. 
9) Isim 'ADAD (عَدَد) atau Bilangan dari satu sampai sepuluh yang menggunakan wazan فَعَالatau مَفْعَل  . Misalnya: ثُلاَثُ(=tiga), رُبَاعُ(=empat), خُمَاسُ(=lima), مَعْشَرُ(=kelompok), dan sebagainya.
10) Isim أُخَرُ (=yang lain) yang merupakan bentuk Jamak dari أُخْرَى .
11) Isim yang huruf akhirnya berupa Alif Mamdudah ( أَلِفمَمْدُوْدَة ) atau Alif Lurus (  اء ). Misalnya: زَهْرَاءُ (=yang berkilau), عُلَمَاءُ (=orang-orang berilmu), أَصْدِقَاءُ (=teman-teman), dan sebagainya.
Seperti dinyatakan di awal tadi, Isim-isim di atas huruf akhirnya tidak menerima baris tanwin dan kasrah. Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan I'rab, Isim Ghairu Munawwan mempunyai alamat atau tanda-tanda I'rab sebagai berikut:
a. I'rab Rafa' dan I'rab Nashab tetap menggunakan Alamat Ashliyyah yakni baris Dhammah untuk I'rab Rafa' dan baris Fathah untuk I'rab Nashab.
b. I'rab Jarr tidak menggunakan baris Kasrah melainkan baris Fathah.
جَاءَ سُلَيْمَانُ
= datang Sulaiman
رَأَيْتُ سُلَيْمَانَ
= aku melihat Sulaiman
سَلَّمْتُ عَلَى سُلَيْمَانَ
= aku memberi salam kepada Sulaiman
Sebagai perkecualian, bila Isim-isim tersebut menggunakan awalan Alif-Lam Ma'rifah, maka ia menerima baris kasrah bila terkena I'rab Jarr. Perhatikan:
سَلَّمْتُ عَلَىقَبَائِلَ
= aku memberi salam kepada suku-suku
سَلَّمْتُ عَلَىالْقَبَائِلِ
= aku memberi salam kepada suku-suku itu
سَلَّمْتُ عَلَى عُلَمَاءَ
= aku memberi salam kepada para ulama
سَلَّمْتُ عَلَىالْعُلَمَاءِ
= aku memberi salam kepada para ulama itu
Namun masih ada lagi kelompok Isim Ghairu Munawwan yang huruf akhirnya selalu tetap, tidak mengalami perubahan baris apapun. Yaitu:
12) Isim-isim yang huruf akhirnya Alif Maqshurah (
أَلِفمَقْصُوْرَة) atau Alif Bengkok ( ى tanpa titik dua). Misalnya: مُوْسَى(=Musa), عِيْسَى(=Isa), هُدَى(=petunjuk), طُوَى(=Thuwa: nama bukit), dan sebagainya.
Isim-isim ini huruf akhirnya tidak pernah berubah, dalam keadaan I'rab apapun.
جَاءَمُوْسَى
= datang Musa
رَأَيْتُ مُوْسَى
= aku melihat Musa
سَلَّمْتُ عَلَى مُوْسَى
= aku memberi salam kepada Musa
Hafalkanlah istilah-istilah tata bahasa Arab yang terdapat dalam pelajaran ini sebelum melangkah ke pelajaran selanjutnya.

إِعْرَبفِعْل الْمُضَارِع
I'RAB FI'IL MUDHARI'
Fi'il Mudhari' juga mengalami I'rab atau perubahan baris/bentuk di akhir kata bila didahului oleh harf-harf tertentu. Fi'il Mudhari mengenal tiga macam I'rab:
1) I'RAB RAFA' ialah bentuk asal dari Fi'il Mudhari' dengan alamat (tanda):
a. Baris Dhammah: أَفْعَلُ / نَفْعَلُ / تَفْعَلُ / يَفْعَلُ
b. Huruf Nun:
تَفْعَلِيْنَ / تَفْعَلاَنِ / تَفْعَلُوْنَ / يَفْعَلاَنِ / يَفْعَلُوْنَ
2) I'RAB NASHAB bila dimasuki Harf Nashab. Alamatnya adalah:
a. Baris Fathah: أَفْعَلَ / نَفْعَلَ / تَفْعَلَ / يَفْعَلَ
b. Hilangnya huruf Nun:
تَفْعَلِيْ / تَفْعَلاَ / تَفْعَلُوْا / يَفْعَلاَ / يَفْعَلُوْا
Adapun yang termasuk Harf Nashab ialah: أَنْ(=bahwa), لَنْ(=tidak akan), إِذَنْ(=kalau begitu), كَيْ(=supaya), حَتَّى(=hingga), لـِ(=untuk).
Perhatikan contoh-contohnya dalam kalimat:
Fi'il Mudhari' Rafa'
Fi'il Mudhari' Nashab
أَنَا أَكْتُبُالدَّرْسَ
أُرِيْدُ أَنْ أَكْتُبَالدَّرْسَ
(=saya menulis pelajaran)
(=saya mau menulis pelajaran)
هُمْ يَدْرُسُوْنَ. هُمْ يَفْهَمُوْنَ.
هُمْ يَدْرُسُوْنَ حَتَّى يَفْهَمُوْا
(=mereka belajar. mereka mengerti)
(=mereka belajar hingga mengerti)
3) I'RAB JAZM ( جَزْم ) bila dimasuki Harf Jazm. Alamatnya ada tiga:
a. Baris Sukun: أَفْعَلْ / نَفْعَلْ / تَفْعَلْ / يَفْعَلْ
b. Hilangnya huruf Nun:
تَفْعَلِيْ / تَفْعَلاَ / تَفْعَلُوْا / يَفْعَلاَ / يَفْعَلُوْا
c. Hilangnya huruf 'Illat ( عِلَّة ) atau "huruf penyakit" yaitu ا / و / ى
Adapun yang termasuk Harf Jazm terbagi dalam dua kelompok:
1. Harf Jazm yang men-jazm-kan satu fi'il saja yaitu: لَمْ (=tidak), لَمَّا (=belum), لِـ/لْـuntuk perintah (=hendaklah), لاَuntuk larangan (=jangan).
Perhatikan contoh-contohnya dalam kalimat:
Fi'il Mudhari' Rafa'
Fi'il Mudhari' Jazm
هُوَ يَدْرُسُ وَهُوَ يَفْهَمُ
لَمْيَدْرُسْوَلَمْيَفْهَمْ
(=dia belajar, dia mengerti)
(=dia belum belajar dan dia belum mengerti)
أَنْتُمْ تَدْخُلُوْنَ بَيْتِيْ
لاَتَدْخُلُوْابَيْتِيْ
(=kalian memasuki rumahku)
(=jangan memasuki rumahku)
2. Harf Jazm yang men-jazm-kan dua fi'il yaitu: إِنْ (=jika), مَنْ (=siapa), مَا (=apa), مَهْمَا(=jangan), مَتَى (=kapan), أَيَّانَ (=kapan), أَيْنَ (=dimana), أَيْنَمَا (=dimana saja), أَنَّى (=darimana), حَيْثُمَا (=darimana saja), كَيْفَمَا (=bagaimana saja), أَيُّ (=yang mana).
Contoh I :

أَنْتَ تَعْمَلُ بِعَمَلٍ ؛ أَنْتَ تُجْزَى بِهِ
(=engkau mengerjakan suatu pekerjaan; engkau akan dibalas dengannya)
إِنْ تَعْمَلْ بِعَمَلٍ تُجْزَ بِهِ
(=jika engkau mengerjakan suatu pekerjaan, engkau akan dibalas dengannya)
Contoh II :

هُوَيُؤْمِنُبِاللهِ ؛ اللهُيَهْدِيْقَلْبَهُ
(=dia beriman kepada Allah; Allah menunjuki hatinya)
مَنْ يُؤْمِنْ بِاللهِ يَهْدِ قَلْبَهُ
(=siapa yang beriman kepada Allah, Dia akan menunjuki hatinya)
Contoh III :

أَنْتُمْتَفْعَلُوْنَمِنْ خَيْرٍ ؛ اللهُيَعْلَمُهُ
(=kalian melakukan suatu kebaikan; Allah mengetahuinya)
مَاتَفْعَلُوْامِنْخَيْرٍيَعْلَمْهُاللهُ
(=kebaikan apa saja yang kalian lakukan, Allah mengetahuinya)
Contoh IV :

أَنْتُمْ تَتَّقُوْنَ اللهَ ؛ أَنْتُمْ تُفْلِحُوْنَ
(=kalian bertaqwa kepada Allah; kalian beruntung)
مَتَىتَتَّقُوااللهَتُفْلِحُوْا
(=kapan kalian bertaqwa kepada Allah, kalian bertuntung)
Contoh V :

هُمَا يَذْهَبَانِ ؛ هُمَا يُخْدَمَانِ
(=mereka berdua pergi; mereka berdua dilayani)
أَيْنَمَايَذْهَبَايُخْدَمَا
(=kemana saja mereka berdua pergi, akan dilayani)
Contoh VI :

أَنْتَتَقْرَأُكِتَابًا ؛تَسْتَفِيْدُمِنْهَا
(=engkau membaca sebuah buku; engkau memperoleh manfaat darinya)
أَيُّ كِتَابٍتَقْرَأْتَسْتَفِدْ
(=buku apa saja yang engkau baca, engkau akan memperoleh manfaat)
Bila anda telah mengerti dan menghafalkan semua pelajaran yang telah diberikan, anda sudah cukup memiliki bekal untuk mengembangkan keterampilan bahasa Arab anda dengan bantuan Kamus Bahasa Arab. Selamat belajar dan berlatih!

عَدَد
'ADAD (BILANGAN)
Mula-mula, anda harus mengafalkan sepuluh bentuk dasar dari 'Adad (Bilangan):
1
وَاحِدٌ
6
سِتُّ
2
اِثْنَانِ
7
سَبْعُ
3
ثَلاَثُ
8
ثَمَانِي
4
أَرْبَعُ
9
تِسْعُ
5
خَمْسُ
10
عَشْرُ
Dalam penggunaannya, bentuk-bentuk dasar 'Adad tersebut akan mengalami sedikit perubahan dengan ketentuan sebagai berikut:
Bilangan 1 (
وَاحِدٌ) terletak di belakang Isim Mufrad dan bilangan 2 (اِثْنَانِ) terletak di belakang Isim Mutsanna. Bila Isim yang dibilangnya itu adalah Muannats maka bentuknya pun menjadi Muannats. Contoh:
ISIM MUDZAKKAR
ISIM MUANNATS
قَلَمٌ وَاحِدٌ
= sebuah pena
مَجَلَّةٌ وَاحِدَةٌ
= sebuah majalah
قَلَمَانِ اثْنَانِ
= 2 buah pena
مَجَلَّتَانِ اثْنَتَانِ
= 2 buah majalah
Bilangan 3 sampai 10 terletak di depan Isim Jamak. Bila Isim Jamak tersebut adalah Mudzakkar maka bentuk 'Adad-nya adalah Muannats, sedang bila Isim Jamak tersebut adalah Muannats maka bentuk 'Adad-nya adalah Mudzakkar:
JAMAK MUDZAKKAR
JAMAK MUANNATS
ثَلاَثَةُ أَقْلاَمٍ
= 3 pena
ثَلاَثُ مَجَلاَّتٌ
= 3 majalah
أَرْبَعَةُ أَقْلاَمٍ
= 4 pena
أَرْبَعُ مَجَلاَّتٌ
= 4 majalah
خَمْسَةُ أَقْلاَمٍ
= 5 pena
خَمْسُ مَجَلاَّتٌ
= 5 majalah
سِتَّةُ أَقْلاَمٍ
= 6 pena
سِتُّ مَجَلاَّتٌ
= 6 majalah
سَبْعَةُ أَقْلاَمٍ
= 7 pena
سَبْعُ مَجَلاَّتٌ
= 7 majalah
ثَمَانِيَةُ أَقْلاَمٍ
= 8 pena
ثَمَانِي مَجَلاَّتٌ
= 8 majalah
تِسْعَةُ أَقْلاَمٍ
= 9 pena
تِسْعُ مَجَلاَّتٌ
= 9 majalah
عَشْرَةُ أَقْلاَمٍ
= 10 pena
عَشْرُ مَجَلاَّتٌ
= 10 majalah
Adapun bilangan belasan (11 sampai 19) terletak di depan Isim Mufrad (Isim Tunggal) meskipun jumlahnya adalah jamak (banyak). Perhatikan pola Mudzakkar dan Muannatsnya serta tanda baris fathah di akhir setiap katanya:
ISIM MUDZAKKAR
ISIM MUANNATS
أَحَدَ عَشَرَ قَلَمًا
= 11
إِحْدَى عَشْرَةَ مَجَلَّةً
= 11
اِثْنَا عَشَرَ قَلَمًا
= 12
اِثْنَتَا عَشْرَةَ مَجَلَّةً
= 12
ثَلاَثَةَ عَشَرَ قَلَمًا
= 13
ثَلاَثَ عَشْرَةَ مَجَلَّةً
= 13
أَرْبَعَةَ عَشَرَ قَلَمًا
= 14
أَرْبَعَ عَشْرَةَ مَجَلَّةً
= 14
خَمْسَةَ عَشَرَ قَلَمًا
= 15
خَمْسَ عَشْرَةَ مَجَلَّةً
= 15
سِتَّةَ عَشَرَ قَلَمًا
= 16
سِتَّ عَشْرَةَ مَجَلَّةً
= 16
سَبْعَةَ عَشَرَ قَلَمًا
= 17
سَبْعَ عَشْرَةَ مَجَلَّةً
= 17
ثَمَانِيَةَ عَشَرَ قَلَمًا
= 18
ثَمَانِيَ عَشْرَةَ مَجَلَّةً
= 18
تِسْعَةَ عَشَرَ قَلَمًا
= 19
تِسْعَ عَشْرَةَ مَجَلَّةً
= 19
Bilangan 20, 30, 40, dsb bentuknya hanya satu macam yakni Mudzakkar, meskipun terletek di depan Isim Mudzakkar maupun Muannats. Contoh:
 
ISIM MUDZAKKAR
ISIM MUANNATS
عِشْرُوْنَ قَلَمًا
= 20
عِشْرُوْنَ مَجَلَّةً
= 20
ثَلاَثُوْنَ قَلَمًا
= 30
ثَلاَثُوْنَ مَجَلَّةً
= 30
أَرْبَعُوْنَ قَلَمًا
= 40
أَرْبَعُوْنَ مَجَلَّةً
= 40
خَمْسُوْنَ قَلَمًا
= 50
خَمْسُوْنَ مَجَلَّةً
= 50
Angka satuan dalam bilangan puluhan, disebutkan sebelum angka puluhannya; dan perubahan bentuk (Mudzakkar atau Muannats) angka satuan tersebut mengikuti perubahan bentuk Isim yang dihitungnya dengan pola seperti berikut:
 
ISIM MUDZAKKAR
ISIM MUANNATS
وَاحِدٌ وَعِشْرُوْنَ قَلَمًا
= 21
وَاحِدَةُ وَعِشْرُوْنَمَجَلَّةً
= 21
اِثْنَانِ وَعِشْرُوْنَ قَلَمًا
= 22
اِثْنَتَانِ وَعِشْرُوْنَمَجَلَّةً
= 22
ثَلاَثَةٌ وَعِشْرُوْنَ قَلَمًا
= 23
ثَلاَثٌ وَعِشْرُوْنَ مَجَلَّةً
= 23
أَرْبَعَةٌ وَعِشْرُوْنَ قَلَمًا
= 24
أَرْبَعٌ عَشْرَةَ مَجَلَّةً
= 24
وَاحِدٌ وَثَلاَثُوْنَ قَلَمًا
= 31
وَاحِدَةُ وَثَلاَثُوْنَمَجَلَّةً
= 31
اِثْنَانِ وَثَلاَثُوْنَ قَلَمًا
= 32
اِثْنَتَانِ وَثَلاَثُوْنَمَجَلَّةً
= 32
ثَلاَثَةٌ وَثَلاَثُوْنَ قَلَمًا
= 33
ثَلاَثٌ وَثَلاَثُوْنَ مَجَلَّةً
= 33
أَرْبَعَةٌ وَثَلاَثُوْنَقَلَمًا
= 34
أَرْبَعٌ وَثَلاَثُوْنَمَجَلَّةً
= 34
Bilangan ratusan dan ribuan terletak di depan puluhan dan satuannya.
 
ISIM MUDZAKKAR
ISIM MUANNATS
مِائَةُ قَلَمٍ
= 100
مِائَةُ مَجَلَّةٍ
= 100
مِائَةُ قَلَمٍ وَقَلَمٌ
= 101
مِائَةُ مَجَلَّةٍ وَمَجَلَّةٌ
= 101
مِائَةُ وَعَشْرَةُ أَقْلاَمٍ
= 110
مِائَةُ وَعَشْرُ مَجَلاَّتٍ
= 110
مِائَتَا قَلَمٍ
= 200
مِائَتَا مَجَلَّةٍ
= 200
مِائَتَا وَثَلاَثُوْنَ قَلَمًا
= 230
مِائَتَا وَثَلاَثُوْنَمَجَلَّةً
= 230
ثَلاَثُ مِائَةٍ قَلَمًا
= 300
ثَلاَثُ مِائَةٍ مَجَلَّةٍ
= 300
أَلْفُ قَلَمٍ
= 1000
أَلْفُ مَجَلَّةٍ
= 1000
Adapun bilangan bertingkat (pertama, kedua, ketiga, kesepuluh, dan seterusnya) mengalami sedikit perubahan bentuk sebagai berikut:
 
أَوَّلُ
= pertama
سَادِسُ
= ke enam
ثَانِي
= ke dua
سَابِعُ
= ke tujuh
ثَالِثُ
= ke tiga
ثَامِنُ
= ke delapan
رَابِعُ
= ke empat
تَاسِعُ
= ke sembilan
خَمْسُ
= ke lima
عَاشِرُ
= ke sepuluh
Bila digunakan dalam bentuk kalimat, memiliki bentuk Mudzakkar dan Muannats yang mengikuti Isim Mudzakkar dan Muannats yang di depannya:
 
ISIM MUDZAKKAR
ISIM MUANNATS
الْبَابُ اْلأَوَّلُ
= Bab Pertama
الْغُرْفَةُ اْلأُوْلَى
= Kamar Pertama
الْبَابُ الثَّانِيْ
= Bab Kedua
الْغُرْفَةُ الثََّانِيَةُ
= Kamar Kedua
الْبَابُ الثَّالِثُ
= Bab Ketiga
الْغُرْفَةُ الثَّالِثَةُ
= Kamar Ketiga
الْبَابُ الرَّابِعُ
= Bab Keempat
الْغُرْفَةُ الرَّابِعَةُ
= Kamar Keempat
Untuk bilangan bertingkat di atas 10 (kesebelas, keduapuluh, dst) maka hanya angka satuannya saja yang mengikuti perubahan bentuk seperti di atas. Contoh:
 
الْبَابُ الْحَادِيَ عَشَرَ
= Bab Kesebelas
الْبَابُ الثَّانِيَ عَشَرَ
= Bab Kedua Belas
الْبَابُ الْعِشْرُوْنَ
= Bab Kedua Puluh
الْغُرْفَةُ الثَّالِثَةُوَالْعِشْرُوْنَ
= Kamar Kedua Puluh Tiga
الْغُرْفَةُ السَّادِسَةُوَالسِّتُّوْنَ
= Kamar Keenam Puluh Enam
الْغُرْفَةُ الثَّامِنَةُوَالْمِائَةُ
= Kamar Keseratus Delapan
Agar lancar menyebut angka dengan Bahasa Arab, anda harus sering membaca setiap angka yang anda temukan dengan menggunakan Bahasa Arab.